Alhilal Hamdi: Energi Hijau Bukan Ban Serep

Sejak demam energi hijau melanda negeri ini, Alhilal Hamdi menjadi orang yang paling sering diburu wartawan. Maklum, dia memang gudang informasi seputar energi hijau ini.

Lelaki yang akrab disapa Hilal ini rajin menulis di berbagai media massa. Jadwalnya disesaki dengan beragam seminar seputar energi hijau. Bahkan, dalam sepekan terakhir jadwalnya sudah terisi penuh. Dalam sehari ia bisa menjadi pembicara di dua tempat sekaligus.

Bukan tanpa alasan bila Hilal, 52 tahun, begitu bersemangat mempromosikan gerakan ini. Sebab, dia adalah Ketua Umum Masyarakat Energi Hijau Indonesia. Bersama orang-orang yang peduli soal pemanfaatan energi hijau terbarukan dari tanaman, Hilal giat mengkampanyekan gerakan ini. “Energi hijau adalah energi bersih yang tidak mencemari lingkungan,” kata Hilal.

Menurut Hilal, energi hijau begitu penting karena dalam beberapa puluh tahun ke depan dunia akan mengalami krisis bahan bakar minyak. Cadangan minyak bumi kian menipis sedangkan kebutuhan bahan bakar meningkat pesat tiap tahun.

Pria yang gemar berternak kambing Etawa dan domba Garut ini bukan orang baru di dunia yang satu ini. Insinyur teknik perminyakan lulusan Institut Teknologi Bandung ini amat mahfum bahwa krisis energi saat ini harus segera dicarikan solusinya.

Di sela kesibukannya yang padat, Hilal menerima wartawan Dewi Rina, dan Ami Afriatni untuk sebuah wawancara khusus. Wawancara berlangsung di kantornya, gedung Perusahaan Listrik Negara di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa lalu. Hilal tercatat sebagai Komisaris Utama di perusahaan itu. Berikut ini petikannya.

Apa itu energi hijau?

Energi hijau adalah energi bersih yang tidak menambah polutan atau cemaran ke atmosfer kita. Bisa dari air, <i>hydrothermal, hydropower, geothermal<i>, angin, matahari, sampah, hingga gelombang. Salah satu yang termasuk energi hijau adalah <i>biofuel<i>. Di masa datang, semua energi hijau harus menjadi kebijakan utama pengembangan dan pemanfaatan energi. Jadi, sebenarnya <i>renewable energy<i> ini harus dikedepankan, bukan malah dijadikan alternatif atau ban serep.

<b>Mengapa energi hijau menjadi sedemikian penting?<b>
Karena cadangan minyak Indonesia tinggal 9 miliar barel. Kalau konsumsi minyak sekitar 450 juta barel setahun, dalam waktu 18 hingga 20 tahun lagi akan habis. Begitu juga dengan gas dan batu bara. Cadangan gas yang tersisa hanya tinggal 62 tahun lagi dan batu bara 150 tahun lagi.

<b>Adakah alternatif lain yang dikembangkan selain energi nabati?<b>
Ya. Sekarang di beberapa daerah PLN (Perusahaan Listrik Negara) mengembangkan <i>hybrid<i>, pembangkit listrik tenaga surya dan diesel. Misalnya, di Pulau Rote. Karena ada <i>hybrid<i>, konsumsi bahan bakar menurun dari kira-kira 95 liter per hari menjadi 35 liter. Begitu juga daerah-daerah yang kaya matahari, sebagian menggunakan energi surya dan sebagian menggunakan diesel yang berasal dari energi nabati.

<b>Apakah sumber energi lainnya, misalnya nuklir, bisa juga dimanfaatkan?<b>
Kita bisa saja mengatasi masalah energi dengan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir, pencairan batu bara atau gasifikasi batu bara, misalnya. Tapi kita juga punya berbagai macam wajah kemiskinan. Tingginya angka pengangguran, akses masyarakat terhadap pendidikan masih rendah, pelayanan kesehatan dan air bersih. Kalau hanya menyelesaikan masalah krisis energi tanpa menyelesaikan masalah kemiskinan, nanti kita bisa menyediakan energi tetapi orang miskin tidak memiliki daya beli terhadap energi. Apalagi harganya tidak akan turun, tapi terus menerus naik. Misalnya, terjadi kenaikan listrik dan tarif angkutan umum. Apa masyarakat miskin mampu?

<b>Apa lagi masalah lainnya?<b>
Problem lainnya adalah degradasi lingkungan. Lahan kritis kita besar sekali, ada sekitar 58 juta hektar lahan hutan yang sekarang terlantar dan tidak termanfaatkan. Laju deforestasi tiap tahun juga tinggi, yaitu sekitar 2,8 juta hektar. Masalah itu ingin dipecahkan oleh program pengembangan bahan bakar nabati yang bisa memecahkan persoalan kemiskinan.

<b>Hubungannya seperti apa?<b>
Orang yang tadinya menganggur, bisa dikaryakan. Angka pengangguran kita sekarang sekitar 11,2 juta orang. Target pemerintah saat ini bisa memberi lapangan kerja. Rencana induk sudah disusun, yaitu dengan mendayagunakan 5 hingga 5,5 juta hektar lahan. Masing-masing untuk sawit, jarak pagar, dan singkong sekitar 1,5 juta hektar, serta tebu 750 ribu hektar. Dengan begitu kita bisa menciptakan lapangan kerja langsung untuk 3,5 juta orang. Belum lagi industri atau kegiatan penunjangnya, misalnya transportasi, pembuatan pabrik, dan gudang yang membutuhkan 1,5 juta orang. Total ada 5 juta orang. Mereka akan mendapat penghasilan sekurang-kurangnya upah minimum regional. Bahkan dalam hitungan kami, pendapatan mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup layak. Ini kan luar biasa.

<b>Siapa yang akan membeli?<b>
Jika petani tidak bisa menjual ke mana-mana, baik ekspor maupun domestik, Pertamina dan PLN wajib membeli.

<b>Apakah pemerintah juga memberikan insentif untuk mendorong penggunaan energi ini secara massal?<b>
Pemerintah mendorong dan memfasilitasi melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara. Rencananya untuk 2006, Departemen Perindustrian akan mengalokasikan sekitar Rp 70 miliar untuk membangun pabrik-pabrik skala kecil. Pabrik ini bisa mengolah tanaman jarak menjadi minyak dari lahan seluas 30 sampai 50 hektar. Tahun ini mudah-mudahan sekitar 80 pabrik bisa dibangun di seluruh Indonesia. Nantinya diharapkan para petani bisa mengolah langsung biji jarak sehingga ketika dijual sudah dalam bentuk minyak jarak.

<b>Ada insentif lainnya?<b>
Untuk pengembangan bibit akan dibantu oleh Departemen Pertanian. Tahun depan pemerintah akan mengembangkan bibit singkong dan tebu unggulan. Diharapkan tahun depan ada tambahan anggaran minimal Rp 100 miliar. Pemerintah juga mengalokasikan subsidi bunga sebesar Rp 1 triliun untuk petani. Selain itu, Rp 2 triliun untuk modal awal pembentukan lembaga pembiayaan pengembangan bahan bakar nabati.

<b>Berapa devisa yang bisa dihemat dengan penggunaan energi hijau?<b>
Kita bisa menghemat sampai US$10 miliar. Sekitar 45 juta kiloliter bahan bakar yang dikonsumsi dari 60 juta kiloliter kebutuhan domestik, disubsidi oleh pemerintah. Pemerintah juga harus mensubsidi bensin 17,5 juta kiloliter dan minyak tanah 11,5 juta kiloliter. Subsidi untuk minyak tanah, misalnya, adalah Rp 4.000 per liter. Selama ini minyak tanah dijual kepada masyarakat dengan harga Rp 2.000 tiap liter, padahal biaya pengadaannya Rp 6.000 per liter. Kalikan dengan 11,5 juta kiloliter yaitu sekitar Rp 45 triliun setiap tahunnya. Belum lagi kebutuhan bahan bakar minyak untuk PLN yaitu sekitar 11,2 juta ton per tahun. Subsidi yang dikeluarkan sekitar Rp 35 triliun. Itu adalah sebagian dari jumlah uang yang dibakar.

<b>Selain menghemat devisa, apa lagi manfaat lain penggunaan energi hijau ini?<b>
Ada tiga sasaran yang ingin dicapai, yaitu harga energi makin murah, lapangan pekerjaan tersedia, dan tidak mengandalkan pasokan dari kilang minyak Balikpapan, Balongan, Dumai, atau impor dari Singapura. Bahan bakar yang dipakai di Indonesia saat ini, sekitar 35 hingga 42 persen diimpor oleh Pertamina. Kalau 5 juta hektar itu bisa diberdayakan, maka sampai 2010 minimum 10 persen penggunaan bahan bakar minyak akan tergantikan oleh bahan bakar nabati. Potensi uang negara yang bisa disimpan sekitar 10 miliar dolar amerika sampai dengan 2010. Bahan bakar nabati yang bisa diperoleh hingga 2010 sekitar 11 juta kiloliter.

<b>Tanaman apa yang paling potensial untuk dikembangkan menjadi energi hijau?<b>
Saat ini pemerintah sedang memprioritaskan empat komoditas, yaitu kelapa sawit, jarak pagar, tebu, dan singkong. Secara nasional keempat komiditas itu mudah dikembangkan. Tapi, ada juga komoditas unggulan lokal seperti kelapa di Gorontalo, Lampung Selatan, dan Jawa Barat bagian selatan. Kemudian di Sulawesi Utara ada nira dari pohon aren yang sekarang dikembangkan jadi minuman Cap Tikus. Nira bisa dikonversi menjadi bensin. Kemudian di Nusa Tenggara Timur ada pohon lontar yang bisa diolah menjadi etanol. Sagu juga bisa menjadi etanol, tetapi kami tidak mendorong sagu sebagai komoditas yang akan dikembangkan.

<b>Mengapa?<b>
Sagu diambil dari batang pohon yang berasal dari hutan alami. Kalau dikembangkan sebagai energi hijau maka hutan akan dibabat habis. Sementara untuk tumbuh kembali memakan waktu yan lama. Berbeda dengan kelapa sawit yang hanya diambil buahnya dan berumur lama, yaitu sampai 25 tahun. Sedangkan jarak pagar umurnya bisa sampai 50 tahun dan bisa dipanen dalam waktu enam bulan.

<b>Apakah keempat tanaman tersebut sudah mulai dikembangkan?<b>
Sawit dan tebu sudah mulai dikembangkan. Hasilnya bagus dan didukung industri dari hulu hingga hilir. Kami punya kebun sawit 5,5 juta hektare, pabrik CPO (minyak kelapa sawit) pun ada. Hasilnya 14 juta ton setahun. Sekitar 3,6 juta dikonsumsi domestik seperti minyak goreng dan berbagai keperluan pangan lain, sekitar 10 juta ton diekspor. Oleh importir sebagian dikonsumsi sebagai <i>edible oil<i> (minyak makan) dan sebagian lagi menjadi biodiesel. Oleh industri dalam negeri sekarang pun ada yang diolah menjadi biodiesel. Oleh Pertamina, dijual sebagai biosolar. Di Jakarta ini sudah ada 134 SPBU yang menjual biosolar dan 5 lainnya di Jawa Timur.

<b>Daerah mana saja yang akan dikembangkan untuk budi daya energi hijau ini?<b>
Kami menyesuaikan dengan tanaman lokal di daerah tersebut. Misalnya, di Gorontalo yang banyak nelayan dan daerah industri. Potensi di sana adalah kelapa sawit, jarak pagar, tebu, dan singkong. Tebu dan singkong bisa untuk pengganti sedangkan sawit, minyak kelapa, dan jarak pagar bisa menggantikan solar dan minyak tanah.

<b>Apakah ada daerah yang menjadi prioritas unggulan?<b>
Petanya sudah dibuat oleh Departemen Pertanian. Jarak pagar bisa ditanam di mana saja di Indonesia, termasuk di daerah kering dan kritis. Misalnya, di Nusa Tenggara yang kekurangan air dan tidak subur. Jarak bisa tumbuh dan berbuah di sana.

<b>Apakah bahan bakar nabati lebih lebih murah dibandingkan dengan minyak fosil?<b>
Harga minyak nabati memang sama dengan harga minyak fosil. Sekarang ini kita jangan bermimpi bahwa bahan bakar minyak akan turun atau tetap di harga 10 dolar sampai 20 dolar per barel. Apalagi pertumbuhan ekonomi di beberapa negara seperti India dan Cina luar biasa pesat. Mereka membutuhkan baja, minyak, dan lain-lain. Cadangan terbesar minyak bumi adalah yang ditemukan 20 atau 30 tahun lalu. Sedangkan saat ini sudah tidak banyak lagi. Kalau kita membakar 10 barel minyak, maka sekarang kita hanya menemukan sekitar 4 barel saja. Ada defisit 6 barel.

<b>Paradigma seperti apa yang seharusnya dikembangkan saat ini?<b>
Kami mengkampanyekan setiap tetes penggunaan bahan bakar nabati akan memperpanjang cadangan minyak fosil kita. Masyarakat juga harus sadar kalau kita menggunakan satu tetes saja bahan bakar nabati berarti kita menghidupkan ekonomi rakyat. Yang akan diuntungkan adalah saudara, kerabat, tetangga yang menjadi petani. Mereka bisa menyekolahkan anaknya, berobat, membeli kebutuhan pokok tanpa ada subsidi dari negara. Sedangkan bila kita menggunakan minyak fosil, maka yang akan kaya adalah perusahaan minyak asing.

<b>Apakah industri dalam negeri sudah siap mengolah komoditas unggulan menjadi energi hijau?<b>
Untuk jarak pohon, pihak swasta memang sudah siap membeli. Tapi, produksinya masih sangat sedikit dan belum cukup diolah menjadi biodiesel sehingga saat ini kami fokuskan pada pembibitan terlebih dahulu. Dari perusahaan ada yang sudah mengembangkan jarak dan sudah panen, yaitu Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Mereka menanami 2.400 hektar lahannya dengan jarak pagar. Hasilnya akan digunakan oleh mereka sendiri. Sedangkan singkong, PT Perkebunan Negara XI berencana akan membangun 4 pabrik untuk bioetanol. PLN juga sudah mulai menggunakan minyak sawit untuk pembangkit yang berkecepatan rendah dan sedang. Komposisinya, separuh minyak sawit dan separuh lagi solar. Harganya lebih murah dibanding solar. Di beberapa daerah, PLN mengerahkan dana pembangunan masyarakat untuk membantu pendidikan dan pemberian bibit jarak gratis ke penduduk.

<b>Anda adalah Ketua Umum Masyarakat Energi Hijau Indonesia. Siapa saja anggotanya?<b>
Ini adalah Lembaga Swadaya Masyarakat <i>nonprofit<i>. Siapa pun bisa menjadi anggota. Orang yang memberi pohon jarak pada orang lain bisa menjadi anggota. Sampai saat ini yang banyak adalah simpatisan karena memang belum digalang serius…hahaha…

Koran Tempo, Minggu, 17 September 2006

Iklan

2 responses to “Alhilal Hamdi: Energi Hijau Bukan Ban Serep

  1. Yth Bp Alhilal,
    saya senang sekali membaca artikel bapak mengenai BBN. Semoga target2/rencna yg bp sebutkan dapat dicapai dg lancar. Yg saya risaukan adalah ketersediaan lahan, yg tergantung dukungan Pemda2. Banyak kasus dimana niat investasi yg membutuhkan lahan besar terhadang oleh problim lahan. Kalau ada pilihan tambang, Pemda lebih suka pertambangan karena cepat menghasilkan dan menambah PAD.Kita perlu berkoar agar lahan betul tersedia dengan segera.
    Berapa biaya produksi BBN, pak? Mengapa DPR kita tidak setuju kalau BBN rakyat dijual dengan harga sama dengan BBM? Saya tidak mengikuti pembahasan hal itu. Trima kasih, wass Wardono Saleh, pensiunan Dephut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s