<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>katumbiri</title>
	<atom:link href="http://katumbiri.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://katumbiri.wordpress.com</link>
	<description>sebuah pelangi di pagi hari</description>
	<lastBuildDate>Sun, 30 Oct 2011 05:48:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='katumbiri.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>katumbiri</title>
		<link>http://katumbiri.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://katumbiri.wordpress.com/osd.xml" title="katumbiri" />
	<atom:link rel='hub' href='http://katumbiri.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Bandung, Wellcome Home</title>
		<link>http://katumbiri.wordpress.com/2008/06/19/bandung-wellcome-home/</link>
		<comments>http://katumbiri.wordpress.com/2008/06/19/bandung-wellcome-home/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 13:01:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>katumbiri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katumbiri.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sekian lama, akhirnya saya kembali membuka katumbiri. Ini adalah posting pertama dari Bandung. Sejak 1 Mei lalu, saya akhirnya &#8220;hijrah&#8221; ke kota kelahiran suami tercinta, Gilang. Kembali menulis, diselingi kabut yang turun ketika hujan sudah reda. Mencecap dingin yang &#8230; <a href="http://katumbiri.wordpress.com/2008/06/19/bandung-wellcome-home/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katumbiri.wordpress.com&amp;blog=466553&amp;post=23&amp;subd=katumbiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah sekian lama, akhirnya saya kembali membuka katumbiri. Ini adalah posting pertama dari Bandung. Sejak 1 Mei lalu, saya akhirnya &#8220;hijrah&#8221; ke kota kelahiran suami tercinta, Gilang.</p>
<p>Kembali menulis, diselingi kabut yang turun ketika hujan sudah reda. Mencecap dingin yang menembus hingga ke sumsum tulang, ah nikmatnya&#8230;</p>
<p>Bandung, akhirnya. Kota yang membawa beribu kenangan. Meski tak lahir dan besar di sini, saya mencintaimu dengan sederhana. Hati telah ditambatkan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/katumbiri.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/katumbiri.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/katumbiri.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/katumbiri.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/katumbiri.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/katumbiri.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/katumbiri.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/katumbiri.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/katumbiri.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/katumbiri.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/katumbiri.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/katumbiri.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/katumbiri.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/katumbiri.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/katumbiri.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/katumbiri.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katumbiri.wordpress.com&amp;blog=466553&amp;post=23&amp;subd=katumbiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katumbiri.wordpress.com/2008/06/19/bandung-wellcome-home/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/239a3c7306a219fa2736462532771c41?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">katumbiri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Soeharto Dalam Sebuah Massa</title>
		<link>http://katumbiri.wordpress.com/2008/01/28/soeharto-dalam-sebuah-massa/</link>
		<comments>http://katumbiri.wordpress.com/2008/01/28/soeharto-dalam-sebuah-massa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2008 07:08:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>katumbiri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katumbiri.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Sulit menggambarkan mantan Presiden Soeharto. Sosok yang telah memerintah Indonesia selama 32 tahun ini, dipuja sekaligus dibenci. Tak bisa dipungkiri, ekonomi Indonesia saat pemerintahannya, sempat melaju pesat. Indonesia bahkan pernah dijuluki sebagai raksasa ekonomi dari Asia Tenggara. Tapi kesuksesan itu &#8230; <a href="http://katumbiri.wordpress.com/2008/01/28/soeharto-dalam-sebuah-massa/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katumbiri.wordpress.com&amp;blog=466553&amp;post=16&amp;subd=katumbiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sulit menggambarkan mantan Presiden Soeharto. Sosok yang telah memerintah Indonesia selama 32 tahun ini, dipuja sekaligus dibenci. Tak bisa dipungkiri, ekonomi Indonesia saat pemerintahannya, sempat melaju pesat. Indonesia bahkan pernah dijuluki sebagai raksasa ekonomi dari Asia Tenggara.</p>
<p>Tapi kesuksesan itu harus dibayar mahal. Utang membengkak, kebebasan berpendapat diberangus,  mereka yang tak sejalan dengan The Smiling General ini harus mendekam dibalik jeruji penjara.</p>
<p>Sebuah kolom di harian Pikiran Rakyat, yang ditulis oleh budayawan Ajip Rosidi berjudul <b>Soeharto, Dosa Mental</b> <b>dan Sistemnya</b> mungkin bisa mendudukan sosok Soeharto dengan lebih jernih. Berikut petikannya:</p>
<p><b>Soeharto, Dosa Mental dan Sistemnya<br />
</b><br />
Oleh Ajip Rosidi</p>
<p>Sudah lama orang berwacana tentang Soeharto yang pernah menjadi  Presiden Republik Indonesia selama 32 tahun. Orang menduga,  bangkrutnya negara kita adalah karena korupsi yang menggurita pada  masa pemerintahan Soeharto. Namun, orang juga mengakui bahwa ia  berjasa pada masa revolusi, di antaranya dengan memimpin penyerbuan &#8220;6 jam di Yogya&#8221; pada tahun 1949. Ada juga yang menganggap bahwa Soeharto yang membuat Indonesia pernah dianggap akan menjadi &#8220;harimau  Asia&#8221; menyusul Korea, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura.</p>
<p>Bahwa Soeharto telah membuat bangkrut negara yang diakui kaya raya dengan minyak bumi dan tambang lain, hutan, isi laut, adalah kenyataan yang sulit dibantah. Bahwa pada masa pemerintahannya, Indonesia dianggap maju ékonominya, dipuji oleh negara-negara maju dan lembaga-lembaga internasional seperti Bank Dunia dan IMF, sekarang kita tahu, hanya semacam konspirasi untuk kepentingan vested interest mereka. Dengan bantuan Soeharto sebagai presiden, mereka leluasa menguras kekayaan negara kita.<br />
<span id="more-16"></span></p>
<p>Mereka tak henti-hentinya memuji kemajuan ekonomi kita walaupun orang yang matanya awas sejak awal akan tahu bahwa tidak mungkin negara ekonominya menjadi maju kalau digerogoti oleh korupsi. Korupsi memang menjadi bagian dari pemerintahan Soeharto yang mereka puji-puji itu.</p>
<p>Dengan melembagakan sistem &#8220;projek&#8221; Soeharto sepertinya &#8220;sengaja&#8221; memberi gaji yang jauh dari cukup buat para pegawai negeri, tetapi memberi kesempatan untuk mencari tambahan melalui projek. Dengan demikian, semua orang yang diberinya wewenang pada suatu jabatan,  mendapat kesempatan untuk bersama-sama memperkaya diri secara melanggar hukum, tetapi terlindungi oleh sistem yang sengaja dibangun untuk itu sehingga tidak ada yang berani menuduh yang lain maling karena dia sendiri juga melakukannya.</p>
<p>Itulah yang dikenal dengan sebutan &#8220;korupsi berjemaah&#8221;. Oleh karena itu, sesudah jatuh dari kedudukannya sebagai presiden, tak ada aparat hukum yang berani menyeret Soeharto ke pengadilan karena mereka tahu kalau Soeharto diadili, mereka pun akan terbawa serta. Selama hampir sepuluh tahun, kita menyaksikan sandiwara pengadilan Soeharto yang  mundur-maju.</p>
<p>Namun, dosa Soeharto bukan cuma korupsi seperti dugaan banyak orang. Dosanya yang paling besar ialah karena selama memerintah dia telah menumbuhkan mentalitas korupsi yang kemudian menyebar menjadi bagian dari kebudayaan bangsa.</p>
<p>Di samping itu, pemerintahan Soeharto telah menumbuhkan dengan sengaja iklim yang membuat warga negaranya bermental rakyat jajahan yang menganggap pejabat sebagai penguasa yang berwewenang menentukan baik dan buruk, benar dan salah, dan menentukan arah hari depan,  sementara rakyat sendiri harus terus bungkam.</p>
<p>Rakyat tidak diberi kesempatan ikut menentukan rencana pembangunan yang sesuai dengan cita-cita dan kemampuan mereka. Rakyat tidak boleh punya pikiran yang berlainan dengan pemerintah.</p>
<p>Mereka yang berani mengemukakan pendapatnya sendiri yang berbeda, apalagi kalau berlawanan dengan pikiran yang resmi, akan disebut &#8220;vokal&#8221;, &#8220;anti-Pancasila&#8221;, &#8220;komunis&#8221;, &#8220;Islam ekstrem&#8221;, &#8220;teroris&#8221;, dan semacamnya dan &#8220;dilempar&#8221; keluar sistem. Mereka disamakan dengan orang berpenyakit lepra yang tak boleh diajak bergaul dalam masyarakat. Melalui indoktrinasi P-4 maupun yang lainnya, kebebasan berpikir dan hati nurani dibunuh.</p>
<p>Soeharto juga menggunakan tentara bukan untuk kepentingan seluruh bangsa, melainkan untuk memperkokoh kedudukan dan sistemnya. Sistem dwifungsi yang konsepnya dibuat oleh Jenderal A.H. Nasution oleh Soeharto (meskipun Nasution sendiri disingkirkan) digunakan secara efektif dan efisien. Dengan dia sendiri berpangkat sebagai Jenderal (kemudian Jenderal Besar) dan menjadi Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, dia dapat menentukan arah dan fungsi tentara demi kepentingan pribadi dan sistemnya.</p>
<p>Dwifungsi menempatkan anggota tentara sebagai warga negara kelas satu yang dapat menduduki jabatan apa saja walaupun di luar kemampuannya. Apalagi, karena para perwira yang mendapat kedudukan dalam ketentaraan atau di luarnya itu mendapat kesempatan untuk menjadi kaya tanpa batas.</p>
<p>Pemupukan pemimpin tidak berjalan wajar dari bawah karena pemerintah selalu turut campur terhadap hasil pemilihan ketua ormas dan parpol dan selalu menyingkirkan pemimpin yang terpilih dalam kongres atau muktamarnya apabila tidak sesuai dengan kehendak pemerintah atau dianggap tidak punya pikiran yang sejalan atau mau sejalan dengan pikiran resmi pemerintah.<br />
Kalau ada pemimpin yang memperlihatkan prestasi yang bagus sehingga menjadi populer di kalangan rakyat, dan dianggap bisa menjadi saingannya, Soeharto langsung mengucilkannya sehingga keluar dari &#8220;sistem&#8221;. Yang menonjol adalah H. Ali Sadikin sebagai Gubernur<br />
Jakarta (1966-1977) yang telah berhasil membangun ibu kota sehingga menjadi kebanggaan rakyatnya.</p>
<p>Artinya, prestasinya sebagai administrator boleh dikatakan luar biasa. Setelah habis masa jabatannya, oleh Soeharto hanya diberi kesempatan memimpin urusan sepak bola. Ditutup segala kemungkinannya untuk muncul sebagai pemimpin masyarakat apalagi sebagai administrator dalam pemerintahan, lalu hak-hak sipilnya dilucuti secara tidak resmi dan aktivitasnya diberangus.</p>
<p>Artinya, Soeharto telah menyia-nyiakan orang yang punya bakat mengatur pemerintahan, padahal orang yang begitu sangat jarang di Indonesia. Hal itu akibat dari mental dan sistem yang dibangun Soeharto.</p>
<p>Dengan alasan bahwa pembangunan ekonomi harus didahulukan, pemerintah Soeharto mengabaikan pembangunan bidang-bidang lainnya, terutama bidang politik yang bahkan dengan sengaja dijauhi karena dianggap menghalangi pembangunan ekonomi. Nasionalisme dikalahkan globalisme yang masuk ke negeri kita didukung oleh modal besar dan sistem kapitalisme.</p>
<p>Sekarang, setelah munculnya pengakuan John Perkins dan berbagai studi lain menjadi jelas bahwa hal itu direncanakan untuk kepentingan perusahaan di negara-negara maju yang hendak mengeruk kekayaan negara kita. Presiden Soeharto dengan sistemnya, seperti juga presiden- presiden lain di negara-negara lain yang kaya minyak, dijadikan alat kaum kapitalis itu dengan memberinya kesempatan untuk melakukan korupsi. Yang penting bagi mereka adalah bagaimana kepentingan mereka dilindungi oleh rezim yang didukungnya.</p>
<p>Soeharto bukan saja telah melakukan korupsi yang oleh PBB dianggap paling besar di dunia, melainkan juga telah merusak mentalitas bangsa kita secara keseluruhan sehingga kita menjadi bangsa paria di antara bangsa-bangsa lain. Kalau besarnya korupsi mungkin dapat (kalau mau!) diusut jumlahnya dan mungkin uangnya dapat diambil kembali, tetapi kerusakan yang ditimbulkan dalam mentalitas bangsa yang menjadi busuk sukar dihitung, dan kita tidak tahu bagaimana cara mengobatinya serta berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk itu.</p>
<p>Penulis, budayawan</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/katumbiri.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/katumbiri.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/katumbiri.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/katumbiri.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/katumbiri.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/katumbiri.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/katumbiri.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/katumbiri.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/katumbiri.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/katumbiri.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/katumbiri.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/katumbiri.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/katumbiri.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/katumbiri.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/katumbiri.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/katumbiri.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katumbiri.wordpress.com&amp;blog=466553&amp;post=16&amp;subd=katumbiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katumbiri.wordpress.com/2008/01/28/soeharto-dalam-sebuah-massa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/239a3c7306a219fa2736462532771c41?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">katumbiri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rahasia Peter</title>
		<link>http://katumbiri.wordpress.com/2008/01/28/rahasia-peter/</link>
		<comments>http://katumbiri.wordpress.com/2008/01/28/rahasia-peter/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2008 06:33:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>katumbiri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katumbiri.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Hari-hari belakangan ini, dunia kantor saya, sedang diguncang oleh situs canggih yang bisa meramal apa saja. Canggih, karena situs itu bisa menjawab dalam semua bahasa. Selain itu, jawabannya kok bisa pas tenan&#8230; Singkat cerita, situs bernama www.peteranswers.com berhasil menciptakan ketegangan-ketegangan &#8230; <a href="http://katumbiri.wordpress.com/2008/01/28/rahasia-peter/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katumbiri.wordpress.com&amp;blog=466553&amp;post=15&amp;subd=katumbiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari-hari belakangan ini, dunia kantor saya, sedang diguncang oleh situs canggih yang bisa meramal apa saja. Canggih, karena situs itu bisa menjawab dalam semua bahasa. Selain itu, jawabannya kok bisa pas tenan&#8230;</p>
<p>Singkat cerita, situs bernama www.peteranswers.com berhasil menciptakan ketegangan-ketegangan kecil yang mengasyikkan, sekaligus membingungkan. Para korban (termasuk saya), mentah-mentah dibuat percaya oleh Om Peter. Kok hebat banget sih dia, bisa tahu apa warna baju saya, siapa nama lengkap saya, apa yang sedang saya makan, nama suami, teman atau pacar.</p>
<p>Padahal dalam bayangan saya, dia berada jauh bermil-mil dari kita, kendati tak tahu dimana persisnya. Maklum, teknologi virtual telah mengerutkan jarak, meniadakan ruang, memangkas waktu. Wah, wah, wah&#8230;</p>
<p><span id="more-15"></span></p>
<p>Kembali ke soal ramal meramal, situs itu bikin geger bukan cuma karena keakuratannya, tapi juga mengungkap rahasia-rahasia kecil. Ini yang bikin pusing sekaligus cemas. Gimana nggak, seorang teman saya sampai susah makan, tidur, uring-uringan, gara-gara keisengan seorang teman lainnya. Gara-gara pertanyaan yang diajukan ke Peter, bikin cemas berat. Dia tanya, apa suaminya punya pacar lagi. Jawabannya singkat, tapi bikin sakit hati. Ya, kata si Peter.</p>
<p>Hua&#8230; kontan si teman langsung masuk ke toilet dan menangis tersedu-sedu. Sementara sekumpulan massa (teman-teman kantor), malah tertawa terbahak-bahak&#8230;.Bener-bener kelewatan.</p>
<p>Peter dan segala ramalannya, akhirnya menjelma menjadi situs yang paling populer. Herannya, si Om malas menjawab pertanyaan orang-orang yang termasuk kategori gaptek (gagap teknologi). Setiap pertanyaan, hampir selalu dijawab &#8220;You don&#8217;t believe me.&#8221; Padahal, si-penanya percaya seratus persen dan deg-degan menunggu ramalan Peter.</p>
<p>Suatu sore, seorang teman ngumpet-ngumpet membuka situs itu. Dia penasaran, kok nggak juga beroleh jawaban. Setelah sekian lama, teman lain yang duduk disebelahnya, sebut saja namanya Anton, jatuh iba. Dia akhirnya membocorkan rahasia Peter. &#8220;Kamu sih, nggak pernah googling ya? Cari dong di Google, kenapa Peter bisa sesakti itu,&#8221; kata si Anton.</p>
<p>Hehehe, bener juga ternyata. Setelah tahu trik Peter, ternyata ramal meramal itu nggak jauh dari tipu daya semata. Semua ocehannya di dunia maya, cuman bualan orang-orang yang iseng.</p>
<p>Caranya mudah. Supaya dijawab oleh si Peter, berikan bocoran kepadanya. Caranya, saat menulis &#8220;Petition&#8221;, ketik jawaban yang diharapkan. Setelah mengisi &#8220;question&#8221;, jawaban yang dimaksud akan langsung terpampang di layar komputer.</p>
<p>Selamat datang di dunia Peter&#8230;..</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/katumbiri.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/katumbiri.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/katumbiri.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/katumbiri.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/katumbiri.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/katumbiri.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/katumbiri.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/katumbiri.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/katumbiri.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/katumbiri.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/katumbiri.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/katumbiri.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/katumbiri.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/katumbiri.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/katumbiri.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/katumbiri.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katumbiri.wordpress.com&amp;blog=466553&amp;post=15&amp;subd=katumbiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katumbiri.wordpress.com/2008/01/28/rahasia-peter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/239a3c7306a219fa2736462532771c41?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">katumbiri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Kita dan Dunia yang Semakin Tua</title>
		<link>http://katumbiri.wordpress.com/2007/12/08/tentang-kita-dan-dunia-yang-semakin-tua/</link>
		<comments>http://katumbiri.wordpress.com/2007/12/08/tentang-kita-dan-dunia-yang-semakin-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Dec 2007 16:41:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>katumbiri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katumbiri.wordpress.com/2007/12/08/tentang-kita-dan-dunia-yang-semakin-tua/</guid>
		<description><![CDATA[dunia dalam wajah tanpa senyum, berurai air mata dan marah, mengapa menangis? aku bertanya. tak usah menangis, kataku padanya  esok, burung-burung akan bernyanyi mengusir sepi, selepas hujan, pelangi akan datang di pagi hari, kabut musim semi dan matahari akan bersinar &#8230; <a href="http://katumbiri.wordpress.com/2007/12/08/tentang-kita-dan-dunia-yang-semakin-tua/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katumbiri.wordpress.com&amp;blog=466553&amp;post=11&amp;subd=katumbiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>dunia dalam wajah</p>
<p>tanpa senyum, berurai air mata dan marah,</p>
<p>mengapa menangis? aku bertanya.</p>
<p>tak usah menangis, kataku padanya </p>
<p><span id="more-11"></span></p>
<p>esok, burung-burung akan bernyanyi mengusir sepi,</p>
<p>selepas hujan, pelangi akan datang di pagi hari,</p>
<p>kabut musim semi dan matahari akan bersinar untukmu lagi,</p>
<p>aku menangis</p>
<p>tubuhku terkoyak,</p>
<p>hutan rimba raya kini jadi kubangan raksasa,</p>
<p>udara pengap, asap knalpot meruap,</p>
<p>laut kian tak bertepi,</p>
<p>hingga kering air mata ini,</p>
<p>tubuh molek ku tak akan kembali lagi.</p>
<p>SAVE OUR WORLD!</p>
<p>(proklamasi, 9 Desember 07) </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/katumbiri.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/katumbiri.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/katumbiri.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/katumbiri.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/katumbiri.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/katumbiri.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/katumbiri.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/katumbiri.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/katumbiri.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/katumbiri.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/katumbiri.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/katumbiri.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/katumbiri.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/katumbiri.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/katumbiri.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/katumbiri.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katumbiri.wordpress.com&amp;blog=466553&amp;post=11&amp;subd=katumbiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katumbiri.wordpress.com/2007/12/08/tentang-kita-dan-dunia-yang-semakin-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/239a3c7306a219fa2736462532771c41?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">katumbiri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Alhilal Hamdi: Energi Hijau Bukan Ban Serep</title>
		<link>http://katumbiri.wordpress.com/2006/12/29/alhilal-hamdi-energi-hijau-bukan-ban-serep/</link>
		<comments>http://katumbiri.wordpress.com/2006/12/29/alhilal-hamdi-energi-hijau-bukan-ban-serep/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Dec 2006 09:44:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>katumbiri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katumbiri.wordpress.com/2006/12/29/alhilal-hamdi-energi-hijau-bukan-ban-serep/</guid>
		<description><![CDATA[Sejak demam energi hijau melanda negeri ini, Alhilal Hamdi menjadi orang yang paling sering diburu wartawan. Maklum, dia memang gudang informasi seputar energi hijau ini. Lelaki yang akrab disapa Hilal ini rajin menulis di berbagai media massa. Jadwalnya disesaki dengan &#8230; <a href="http://katumbiri.wordpress.com/2006/12/29/alhilal-hamdi-energi-hijau-bukan-ban-serep/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katumbiri.wordpress.com&amp;blog=466553&amp;post=10&amp;subd=katumbiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak demam energi hijau melanda negeri ini, Alhilal Hamdi menjadi orang yang paling sering diburu wartawan. Maklum, dia memang gudang informasi seputar energi hijau ini.</p>
<p>Lelaki yang akrab disapa Hilal ini rajin menulis di berbagai media massa. Jadwalnya disesaki dengan beragam seminar seputar energi hijau. Bahkan, dalam sepekan terakhir jadwalnya sudah terisi penuh. Dalam sehari ia bisa menjadi pembicara di dua tempat sekaligus.</p>
<p>Bukan tanpa alasan bila Hilal, 52 tahun, begitu bersemangat mempromosikan gerakan ini. Sebab, dia adalah Ketua Umum Masyarakat Energi Hijau Indonesia. Bersama orang-orang yang peduli soal pemanfaatan energi hijau terbarukan dari tanaman, Hilal giat mengkampanyekan gerakan ini. &#8220;Energi hijau adalah energi bersih yang tidak mencemari lingkungan,&#8221; kata Hilal.</p>
<p>Menurut Hilal, energi hijau begitu penting karena dalam beberapa puluh tahun ke depan dunia akan mengalami krisis bahan bakar minyak. Cadangan minyak bumi kian menipis sedangkan kebutuhan bahan bakar meningkat pesat tiap tahun.</p>
<p>Pria yang gemar berternak kambing Etawa dan domba Garut ini bukan orang baru di dunia yang satu ini. Insinyur teknik perminyakan lulusan Institut Teknologi Bandung ini amat mahfum bahwa krisis energi saat ini harus segera dicarikan solusinya.</p>
<p>Di sela kesibukannya yang padat, Hilal menerima wartawan Dewi Rina, dan Ami Afriatni untuk sebuah wawancara khusus. Wawancara berlangsung di kantornya, gedung Perusahaan Listrik Negara di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa lalu. Hilal tercatat sebagai Komisaris Utama di perusahaan itu. Berikut ini petikannya.</p>
<p><strong>Apa itu energi hijau?</strong></p>
<p>Energi hijau adalah energi bersih yang tidak menambah polutan atau cemaran ke atmosfer kita. Bisa dari air, &lt;i&gt;hydrothermal, hydropower, geothermal&lt;i&gt;, angin, matahari, sampah, hingga gelombang. Salah satu yang termasuk energi hijau adalah &lt;i&gt;biofuel&lt;i&gt;. Di masa datang, semua energi hijau harus menjadi kebijakan utama pengembangan dan pemanfaatan energi. Jadi, sebenarnya &lt;i&gt;renewable energy&lt;i&gt; ini harus dikedepankan, bukan malah dijadikan alternatif atau ban serep.</p>
<p><span id="more-10"></span>&lt;b&gt;Mengapa energi hijau menjadi sedemikian penting?&lt;b&gt;<br />
Karena cadangan minyak Indonesia tinggal 9 miliar barel. Kalau konsumsi minyak sekitar 450 juta barel setahun, dalam waktu 18 hingga 20 tahun lagi akan habis. Begitu juga dengan gas dan batu bara. Cadangan gas yang tersisa hanya tinggal 62 tahun lagi dan batu bara 150 tahun lagi.</p>
<p>&lt;b&gt;Adakah alternatif lain yang dikembangkan selain energi nabati?&lt;b&gt;<br />
Ya. Sekarang di beberapa daerah PLN (Perusahaan Listrik Negara) mengembangkan &lt;i&gt;hybrid&lt;i&gt;, pembangkit listrik tenaga surya dan diesel. Misalnya, di Pulau Rote. Karena ada &lt;i&gt;hybrid&lt;i&gt;, konsumsi bahan bakar menurun dari kira-kira 95 liter per hari menjadi 35 liter. Begitu juga daerah-daerah yang kaya matahari, sebagian menggunakan energi surya dan sebagian menggunakan diesel yang berasal dari energi nabati.</p>
<p>&lt;b&gt;Apakah sumber energi lainnya, misalnya nuklir, bisa juga dimanfaatkan?&lt;b&gt;<br />
Kita bisa saja mengatasi masalah energi dengan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir, pencairan batu bara atau gasifikasi batu bara, misalnya. Tapi kita juga punya berbagai macam wajah kemiskinan. Tingginya angka pengangguran, akses masyarakat terhadap pendidikan masih rendah, pelayanan kesehatan dan air bersih. Kalau hanya menyelesaikan masalah krisis energi tanpa menyelesaikan masalah kemiskinan, nanti kita bisa menyediakan energi tetapi orang miskin tidak memiliki daya beli terhadap energi. Apalagi harganya tidak akan turun, tapi terus menerus naik. Misalnya, terjadi kenaikan listrik dan tarif angkutan umum. Apa masyarakat miskin mampu?</p>
<p>&lt;b&gt;Apa lagi masalah lainnya?&lt;b&gt;<br />
Problem lainnya adalah degradasi lingkungan. Lahan kritis kita besar sekali, ada sekitar 58 juta hektar lahan hutan yang sekarang terlantar dan tidak termanfaatkan. Laju deforestasi tiap tahun juga tinggi, yaitu sekitar 2,8 juta hektar. Masalah itu ingin dipecahkan oleh program pengembangan bahan bakar nabati yang bisa memecahkan persoalan kemiskinan.</p>
<p>&lt;b&gt;Hubungannya seperti apa?&lt;b&gt;<br />
Orang yang tadinya menganggur, bisa dikaryakan. Angka pengangguran kita sekarang sekitar 11,2 juta orang. Target pemerintah saat ini bisa memberi lapangan kerja. Rencana induk sudah disusun, yaitu dengan mendayagunakan 5 hingga 5,5 juta hektar lahan. Masing-masing untuk sawit, jarak pagar, dan singkong sekitar 1,5 juta hektar, serta tebu 750 ribu hektar. Dengan begitu kita bisa menciptakan lapangan kerja langsung untuk 3,5 juta orang. Belum lagi industri atau kegiatan penunjangnya, misalnya transportasi, pembuatan pabrik, dan gudang yang membutuhkan 1,5 juta orang. Total ada 5 juta orang. Mereka akan mendapat penghasilan sekurang-kurangnya upah minimum regional. Bahkan dalam hitungan kami, pendapatan mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup layak. Ini kan luar biasa.</p>
<p>&lt;b&gt;Siapa yang akan membeli?&lt;b&gt;<br />
Jika petani tidak bisa menjual ke mana-mana, baik ekspor maupun domestik, Pertamina dan PLN wajib membeli.</p>
<p>&lt;b&gt;Apakah pemerintah juga memberikan insentif untuk mendorong penggunaan energi ini secara massal?&lt;b&gt;<br />
Pemerintah mendorong dan memfasilitasi melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara. Rencananya untuk 2006, Departemen Perindustrian akan mengalokasikan sekitar Rp 70 miliar untuk membangun pabrik-pabrik skala kecil. Pabrik ini bisa mengolah tanaman jarak menjadi minyak dari lahan seluas 30 sampai 50 hektar. Tahun ini mudah-mudahan sekitar 80 pabrik bisa dibangun di seluruh Indonesia. Nantinya diharapkan para petani bisa mengolah langsung biji jarak sehingga ketika dijual sudah dalam bentuk minyak jarak.</p>
<p>&lt;b&gt;Ada insentif lainnya?&lt;b&gt;<br />
Untuk pengembangan bibit akan dibantu oleh Departemen Pertanian. Tahun depan pemerintah akan mengembangkan bibit singkong dan tebu unggulan. Diharapkan tahun depan ada tambahan anggaran minimal Rp 100 miliar. Pemerintah juga mengalokasikan subsidi bunga sebesar Rp 1 triliun untuk petani. Selain itu, Rp 2 triliun untuk modal awal pembentukan lembaga pembiayaan pengembangan bahan bakar nabati.</p>
<p>&lt;b&gt;Berapa devisa yang bisa dihemat dengan penggunaan energi hijau?&lt;b&gt;<br />
Kita bisa menghemat sampai US$10 miliar. Sekitar 45 juta kiloliter bahan bakar yang dikonsumsi dari 60 juta kiloliter kebutuhan domestik, disubsidi oleh pemerintah. Pemerintah juga harus mensubsidi bensin 17,5 juta kiloliter dan minyak tanah 11,5 juta kiloliter. Subsidi untuk minyak tanah, misalnya, adalah Rp 4.000 per liter. Selama ini minyak tanah dijual kepada masyarakat dengan harga Rp 2.000 tiap liter, padahal biaya pengadaannya Rp 6.000 per liter. Kalikan dengan 11,5 juta kiloliter yaitu sekitar Rp 45 triliun setiap tahunnya. Belum lagi kebutuhan bahan bakar minyak untuk PLN yaitu sekitar 11,2 juta ton per tahun. Subsidi yang dikeluarkan sekitar Rp 35 triliun. Itu adalah sebagian dari jumlah uang yang dibakar.</p>
<p>&lt;b&gt;Selain menghemat devisa, apa lagi manfaat lain penggunaan energi hijau ini?&lt;b&gt;<br />
Ada tiga sasaran yang ingin dicapai, yaitu harga energi makin murah, lapangan pekerjaan tersedia, dan tidak mengandalkan pasokan dari kilang minyak Balikpapan, Balongan, Dumai, atau impor dari Singapura. Bahan bakar yang dipakai di Indonesia saat ini, sekitar 35 hingga 42 persen diimpor oleh Pertamina. Kalau 5 juta hektar itu bisa diberdayakan, maka sampai 2010 minimum 10 persen penggunaan bahan bakar minyak akan tergantikan oleh bahan bakar nabati. Potensi uang negara yang bisa disimpan sekitar 10 miliar dolar amerika sampai dengan 2010. Bahan bakar nabati yang bisa diperoleh hingga 2010 sekitar 11 juta kiloliter.</p>
<p>&lt;b&gt;Tanaman apa yang paling potensial untuk dikembangkan menjadi energi hijau?&lt;b&gt;<br />
Saat ini pemerintah sedang memprioritaskan empat komoditas, yaitu kelapa sawit, jarak pagar, tebu, dan singkong. Secara nasional keempat komiditas itu mudah dikembangkan. Tapi, ada juga komoditas unggulan lokal seperti kelapa di Gorontalo, Lampung Selatan, dan Jawa Barat bagian selatan. Kemudian di Sulawesi Utara ada nira dari pohon aren yang sekarang dikembangkan jadi minuman Cap Tikus. Nira bisa dikonversi menjadi bensin. Kemudian di Nusa Tenggara Timur ada pohon lontar yang bisa diolah menjadi etanol. Sagu juga bisa menjadi etanol, tetapi kami tidak mendorong sagu sebagai komoditas yang akan dikembangkan.</p>
<p>&lt;b&gt;Mengapa?&lt;b&gt;<br />
Sagu diambil dari batang pohon yang berasal dari hutan alami. Kalau dikembangkan sebagai energi hijau maka hutan akan dibabat habis. Sementara untuk tumbuh kembali memakan waktu yan lama. Berbeda dengan kelapa sawit yang hanya diambil buahnya dan berumur lama, yaitu sampai 25 tahun. Sedangkan jarak pagar umurnya bisa sampai 50 tahun dan bisa dipanen dalam waktu enam bulan.</p>
<p>&lt;b&gt;Apakah keempat tanaman tersebut sudah mulai dikembangkan?&lt;b&gt;<br />
Sawit dan tebu sudah mulai dikembangkan. Hasilnya bagus dan didukung industri dari hulu hingga hilir. Kami punya kebun sawit 5,5 juta hektare, pabrik CPO (minyak kelapa sawit) pun ada. Hasilnya 14 juta ton setahun. Sekitar 3,6 juta dikonsumsi domestik seperti minyak goreng dan berbagai keperluan pangan lain, sekitar 10 juta ton diekspor. Oleh importir sebagian dikonsumsi sebagai &lt;i&gt;edible oil&lt;i&gt; (minyak makan) dan sebagian lagi menjadi biodiesel. Oleh industri dalam negeri sekarang pun ada yang diolah menjadi biodiesel. Oleh Pertamina, dijual sebagai biosolar. Di Jakarta ini sudah ada 134 SPBU yang menjual biosolar dan 5 lainnya di Jawa Timur.</p>
<p>&lt;b&gt;Daerah mana saja yang akan dikembangkan untuk budi daya energi hijau ini?&lt;b&gt;<br />
Kami menyesuaikan dengan tanaman lokal di daerah tersebut. Misalnya, di Gorontalo yang banyak nelayan dan daerah industri. Potensi di sana adalah kelapa sawit, jarak pagar, tebu, dan singkong. Tebu dan singkong bisa untuk pengganti sedangkan sawit, minyak kelapa, dan jarak pagar bisa menggantikan solar dan minyak tanah.</p>
<p>&lt;b&gt;Apakah ada daerah yang menjadi prioritas unggulan?&lt;b&gt;<br />
Petanya sudah dibuat oleh Departemen Pertanian. Jarak pagar bisa ditanam di mana saja di Indonesia, termasuk di daerah kering dan kritis. Misalnya, di Nusa Tenggara yang kekurangan air dan tidak subur. Jarak bisa tumbuh dan berbuah di sana.</p>
<p>&lt;b&gt;Apakah bahan bakar nabati lebih lebih murah dibandingkan dengan minyak fosil?&lt;b&gt;<br />
Harga minyak nabati memang sama dengan harga minyak fosil. Sekarang ini kita jangan bermimpi bahwa bahan bakar minyak akan turun atau tetap di harga 10 dolar sampai 20 dolar per barel. Apalagi pertumbuhan ekonomi di beberapa negara seperti India dan Cina luar biasa pesat. Mereka membutuhkan baja, minyak, dan lain-lain. Cadangan terbesar minyak bumi adalah yang ditemukan 20 atau 30 tahun lalu. Sedangkan saat ini sudah tidak banyak lagi. Kalau kita membakar 10 barel minyak, maka sekarang kita hanya menemukan sekitar 4 barel saja. Ada defisit 6 barel.</p>
<p>&lt;b&gt;Paradigma seperti apa yang seharusnya dikembangkan saat ini?&lt;b&gt;<br />
Kami mengkampanyekan setiap tetes penggunaan bahan bakar nabati akan memperpanjang cadangan minyak fosil kita. Masyarakat juga harus sadar kalau kita menggunakan satu tetes saja bahan bakar nabati berarti kita menghidupkan ekonomi rakyat. Yang akan diuntungkan adalah saudara, kerabat, tetangga yang menjadi petani. Mereka bisa menyekolahkan anaknya, berobat, membeli kebutuhan pokok tanpa ada subsidi dari negara. Sedangkan bila kita menggunakan minyak fosil, maka yang akan kaya adalah perusahaan minyak asing.</p>
<p>&lt;b&gt;Apakah industri dalam negeri sudah siap mengolah komoditas unggulan menjadi energi hijau?&lt;b&gt;<br />
Untuk jarak pohon, pihak swasta memang sudah siap membeli. Tapi, produksinya masih sangat sedikit dan belum cukup diolah menjadi biodiesel sehingga saat ini kami fokuskan pada pembibitan terlebih dahulu. Dari perusahaan ada yang sudah mengembangkan jarak dan sudah panen, yaitu Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Mereka menanami 2.400 hektar lahannya dengan jarak pagar. Hasilnya akan digunakan oleh mereka sendiri. Sedangkan singkong, PT Perkebunan Negara XI berencana akan membangun 4 pabrik untuk bioetanol. PLN juga sudah mulai menggunakan minyak sawit untuk pembangkit yang berkecepatan rendah dan sedang. Komposisinya, separuh minyak sawit dan separuh lagi solar. Harganya lebih murah dibanding solar. Di beberapa daerah, PLN mengerahkan dana pembangunan masyarakat untuk membantu pendidikan dan pemberian bibit jarak gratis ke penduduk.</p>
<p>&lt;b&gt;Anda adalah Ketua Umum Masyarakat Energi Hijau Indonesia. Siapa saja anggotanya?&lt;b&gt;<br />
Ini adalah Lembaga Swadaya Masyarakat &lt;i&gt;nonprofit&lt;i&gt;. Siapa pun bisa menjadi anggota. Orang yang memberi pohon jarak pada orang lain bisa menjadi anggota. Sampai saat ini yang banyak adalah simpatisan karena memang belum digalang serius&#8230;hahaha&#8230;</p>
<p>Koran Tempo, Minggu, 17 September 2006</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/katumbiri.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/katumbiri.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/katumbiri.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/katumbiri.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/katumbiri.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/katumbiri.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/katumbiri.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/katumbiri.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/katumbiri.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/katumbiri.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/katumbiri.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/katumbiri.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/katumbiri.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/katumbiri.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/katumbiri.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/katumbiri.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katumbiri.wordpress.com&amp;blog=466553&amp;post=10&amp;subd=katumbiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katumbiri.wordpress.com/2006/12/29/alhilal-hamdi-energi-hijau-bukan-ban-serep/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/239a3c7306a219fa2736462532771c41?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">katumbiri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gus Dur: Pluralisme Bagian dari Islam</title>
		<link>http://katumbiri.wordpress.com/2006/10/11/gus-dur-pluralisme-bagian-dari-islam/</link>
		<comments>http://katumbiri.wordpress.com/2006/10/11/gus-dur-pluralisme-bagian-dari-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Oct 2006 08:40:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>katumbiri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katumbiri.wordpress.com/2006/10/11/gus-dur-pluralisme-bagian-dari-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Konflik antar umat beragama kembali merebak. Sejumlah rumah dan masjid milik kelompok Ahmadiyah diserbu dan dibakar massa pada awal Desember 2007 lalu. Tak urung, kejadian ini kembali menyadarkan kita, inikah wajah Indonesia saat ini? Padahal menurut Abdurrahman Wahid -atau biasa &#8230; <a href="http://katumbiri.wordpress.com/2006/10/11/gus-dur-pluralisme-bagian-dari-islam/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katumbiri.wordpress.com&amp;blog=466553&amp;post=6&amp;subd=katumbiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Konflik antar umat beragama kembali merebak. Sejumlah rumah dan masjid milik kelompok Ahmadiyah diserbu dan dibakar massa pada awal Desember 2007 lalu. Tak urung, kejadian ini kembali menyadarkan kita, inikah wajah Indonesia saat ini?</p>
<p>Padahal menurut Abdurrahman Wahid -atau biasa disapa Gus Dur, pluralisme adalah bagian dari Islam. &#8220;Pluralisme adalah bagian dari Islam sejak dulu. Inti dari Islam kan sebetulnya hanya dua dalam kalimat syahadat, yaitu tentang keesaan Tuhan dan kerasulan Muhammad. Di luar itu, masing-masing saja, toh?&#8221; katanya dalam sebuah wawancara dengan Koran Tempo. </p>
<p>Untuk mengingatkan kembali, berikut petikan wawancara penulis dengan mantan Presiden Indonesia ini.</p>
<p> <strong>Anda baru saja menerbitkan buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita. Bagaimana ceritanya?</strong></p>
<p>Sebenarnya judulnya bukan itu. Anak-anak di Wahid Institute mengusulkan judul lain. Ini adalah kumpulan tulisan saya di majalah Prisma. Awalnya adalah tentang pandangan saya terhadap militerisme. Namun, buku itu nggak jadi terbit. Akhirnya, buku itu diterbitkan oleh Wahid Institute, yang mengulas soal perbedaan hubungan Islam dengan negara dan Islam dengan masyarakat. Tadinya judulnya adalah Islam, Negara dan Masyarakat. Tapi sama anak-anak di Wahid Institute diganti menjadi Islamku, Islam Anda, Islam Kita. Jadi itu memang bukan kemauan saya.</p>
<p><strong>Berapa lama Anda menulis buku ini?</strong></p>
<p>Dua tahun. Tulisan ini adalah kolom yang sudah diterbitkan di surat kabar.<br />
<span id="more-6"></span><br />
<strong>Masih punya waktu luang untuk menulis?</strong></p>
<p>Ya, bisa dua atau tiga jam di sela-sela perjalanan. Biasanya direkam lalu diketik oleh asisten saya. Saya mendikte. Setiap 10 baris menjadi satu alinea.</p>
<p><strong>Apa saja yang menarik untuk ditulis?</strong></p>
<p>Menentang kesempitan pandangan.</p>
<p><strong>Apa yang baru dari buku ini?</strong></p>
<p>Islam itu harus dipisahkan dari negara, tapi bahasanya bisa bermacam-macam. Seperti Pak Try (Try Sutrisno), dalam sebuah diskusi dia bilang Indonesia bukan negara teokrasi dan bukan negara agama. Giliran saya yang ngomong, kalau menurut Pak Try bukan negara teokrasi dan bukan negara agama, Indonesia adalah negara yang bukan-bukan&#8230; ha-ha-ha&#8230;. Dia grogi, padahal dia sudah menyiapkannya selama berminggu-minggu.</p>
<p><strong>Apa perbedaan Islam menurut pandangan Anda dan Islam menurut masyarakat pada umumnya?</strong></p>
<p>Ya, memang berbeda. Dalam Al-Quran sudah dinyatakan, &#8220;Sesungguhnya telah Kuciptakan engkau laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, untuk saling mengenal.&#8221; Nah, berarti perbedaan diakui, toh?<br />
<strong><br />
Sejauh mana perbedaan tersebut ditoleransi?</strong></p>
<p>Pluralisme adalah bagian dari Islam sejak dulu. Inti dari Islam kan sebetulnya hanya dua dalam kalimat syahadat, yaitu tentang keesaan Tuhan dan kerasulan Muhammad. Di luar itu, masing-masing saja, toh?</p>
<p><strong>Berarti masing-masing orang berhak menafsirkan Islam?</strong></p>
<p>Ya, ada aturannya, dong. Nggak bisa begitu. Islam itu berbeda-beda sesuai dengan konsep studi Islam di masing-masing kawasan. Masyarakat Islam di Afrika, misalnya, berbeda dengan di Turki, Persia, Asia Selatan. Ada juga masyarakat Islam yang menjadi minoritas di negara industri maju.<br />
<strong><br />
Seperti apa perbedaannya?</strong></p>
<p>Ulama di Indonesia, misalnya, ada yang membolehkan bersalaman dengan perempuan. Kenapa tidak? Setiap hari saya kedatangan tamu. Sekitar 125 di antaranya adalah perempuan. Apa mereka minta saya kawini? Ya, nggak mungkin, dong&#8230; ha-ha-ha&#8230;. Itu menunjukkan penghormatan kepada ulama.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan salat? Menurut Anda, apakah wajib juga hukumnya?</strong></p>
<p>Begini, dengan dua kalimat syahadat itu, berarti apa yang diperintahkan oleh Allah dan Muhammad, kita harus tunduk. Dalam rukun Islam, di antaranya salat kan menjadi wajib pula hukumnya.</p>
<p><strong>Apakah Anda juga mendidik anak-anak untuk wajib salat?</strong></p>
<p>Pendidikan bukan hanya dilakukan oleh saya, tapi juga istri saya. Dia itu, kalau sudah lewat jam 12 malam, selalu salat. Setelah itu, sahur dan puasa. Saya bilang ke istri, &#8220;Ma, kita bermitra saja, ya. Anda yang puasa, saya yang dapat pahalanya.&#8221; Ha-ha-ha&#8230;.</p>
<p><strong>Siapa yang paling berpengaruh terhadap pemikiran Anda?</strong></p>
<p>Nggak ada. Pengembaraan saya sendiri saja.</p>
<p><strong>Dari mana akar Islam yang sekarang tumbuh dan berkembang di Indonesia?</strong></p>
<p>Dalam menghadapi tantangan dari luar, Islam itu ada dua cara. Yang pertama pendekatan kultural. Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, kedua-duanya lahir pada abad ke-5 Hijriah. Ada ulama yang memperbolehkan ziarah kubur dan ada yang melarang.</p>
<p>Yang membolehkan jiarah menjadi NU. Yang anti menjadi Muhammadiyah. Yang kedua adalah pendekatan institusional, kelembagaan. Dalam menentang Barat, mereka biasanya ofensif. Padahal seperti FPI (Front Pembela Islam), mereka kan nggak begitu ngerti agama. Sekarang ditambah lagi, kita menghadapi globalisasi. Ini menambah khawatir mereka. Padahal Islam di Indonesia itu sebetulnya menerima atau menyerap segala budaya. Karena kita berbudaya, lebih gampang bagi kita menyerap budaya yang ada.</p>
<p><strong>Apakah di Barat ada pandangan yang melihat Islam sebagai tantangan?</strong></p>
<p>Ya, jelas, Islam itu kalau di Barat dilihat sebagai pihak yang ingin mengubur Barat. Kita jangan goyah, kan punya cara sendiri. Mestinya 5 Oktober ini saya bicara di Arizona (Amerika Serikat) di depan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Donald Rumsfeld. Tapi saya tidak bisa hadir. Makalahnya akhirnya saya rekam dalam bentuk video selama tujuh menit. Saya sampaikan kepada mereka, bagi kaum muslim garis keras yang tidak terlibat terorisme, maka dihukum mati. Ini sudah terjadi pada Umar Al-Faruq. Bagi saya, hal semacam itu tidak cocok. Saya lebih senang kalau dihukum badan. Kalau memang dia bersalah, bubarkan atau apa kek. Ini yang saya usulkan. Belajar bagaimana hidup bersama-sama dengan Islam garis keras itu, berdialog dengan mereka. Ini adalah bagian dari proses.</p>
<p><strong>Mengapa akhir-akhir ini banyak bermunculan Islam garis keras?</strong></p>
<p>Dimulai tahun 1989, ketika ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) berdiri. Pak Harto (Soeharto, mantan Presiden RI) sudah menunjukkan bahwa dia membiarkan politik Islam. Karena dia orang militer, maka pendekatannya adalah institusi. Apalagi ada satu kepentingan lain, yaitu persaingan antarpejabat. Mereka memakai Islam garis keras. Itu pula yang terjadi dengan FPI. Kan yang mendirikan adalah para jenderal dan jenderal pensiun, tentara-tentara. Mereka merasa mendapat angin.</p>
<p><strong>Apakah semangat Islam garis keras ini pula yang akhirnya mengilhami sejumlah daerah menetapkan peraturan daerah syariah?</strong></p>
<p>Satu bulan sebelum saya lengser, kami di sidang kabinet membicarakan soal munculnya perda-perda syariah itu di tingkat provinsi, kabupaten, atau kota madya. Bagaimana perda-perda itu terjadi. Waktu sidang kabinet, soal nama tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika ada pelanggaran terhadap Undang-Undang Dasar. Perda-perda yang berisi pelanggaran terhadap UUD dibatalkan. Yang melakukan pembatalan adalah Mahkamah Agung. Tapi MA juga penakut, pura-pura nggak lihat. Di sisi lain, dengan dipilihnya kepala daerah melalui DPRD, ada faktor politis. Calon-calon kepala daerah ini harus menarik agar dipilih. Maka mereka senang dengan syariah dan rakyat tertarik. Mereka lupa bahwa di dalamnya ada pelanggaran. Pemda, termasuk perda, adalah milik negara. Jadi melanggar, dong. Negara dalam konteks agama kan nggak boleh.</p>
<p><strong>Titik temu antara pihak yang ingin menegakkan syariah Islam dengan UUD seperti apa?</strong></p>
<p>Menurut saya, asalkan tidak melanggar UUD. Kalau mau bersyariat, silakan saja asal tidak bertentangan dengan UUD. Nggak peduli.</p>
<p><strong>Kembali ke soal pluralisme, bagaimana Anda memandang persoalan yang tengah dihadapi kaum Ahmadiyah yang diusir dari tempat tinggal mereka?</strong></p>
<p>Begini, dalam hadis Nabi sudah dijelaskan. &#8220;Barang siapa yang mengkafirkan seseorang, maka sesungguhnya dialah yang kafir.&#8221; Apakah Ahmadiyah itu meninggalkan Islam atau tidak. Simpel saja kan. Mereka juga bersyahadat. Jadi masih tetap Islam.</p>
<p><strong>Bagaimana Anda melihat tayangan mistik yang makin menjamur di televisi?</strong></p>
<p>Begini, ya, saya melihat keyakinan-keyakinan mereka itu adalah bagian dari sebuah proses yang besar. Pada intinya akan berakhir pada rasionalisme. Agama itu kan pada akhirnya rasionalisme. Yang tidak bisa dirasionalisasi, ya, dua kalimat syahadat itu. Sikap kita seharusnya rasional. Jangan ngacak saja.</p>
<p><strong>Sikap Anda tentang fatwa ulama NU yang mengharamkan infotainment seperti apa?</strong></p>
<p>Fatwa itu sebetulnya adalah sesuatu yang dikeluarkan oleh orang yang ahli. Majelis fatwa, misalnya, mengeluarkan sesuatu yang dihalalkan atau diharamkan. Banyak masalah dasar yang harus dihadapi oleh bangsa kita. Masalah kebodohan dan pertahanan, misalnya. Kok, malah ngurusin infotainment.</p>
<p><strong>Apa tanggapan Anda tentang bermunculannya para dai muda?</strong></p>
<p>Biar saja. Sekarang ini, namanya juga proses. Padahal ada yang motifnya komersial, politik, macam-macamlah.</p>
<p><strong>Dari sekian banyak dai yang muncul, ada yang Anda favoritkan?</strong></p>
<p>Nggak ada. Kalau mereka ngomong, saya ketawa saja. Tapi ada satu yang saya suka. Siapa, tuh, namanya yang dari Syiah itu&#8230; Kang Jalal (Jalaluddin Rahmat). Itu saya suka. Dia orang yang belajar.</p>
<p><strong>Apakah Anda akan mencalonkan diri menjadi presiden pada 2009?</strong></p>
<p>Saya disuruh oleh orang-orang tua. Ada lima orang. Saya nggak mau bilang siapa mereka.</p>
<p><strong>Mengapa harus Anda yang menjadi presiden?</strong></p>
<p>Memang tidak rasional. Dalam mimpi, katanya, ada isyarat-isyarat semacam wangsit atau pangsitlah&#8230; ha-ha-ha&#8230;. Kalau mau makmur, krisis selesai, ya, harus saya. Kita sudah mencoba bermacam-macam orientasi, selalu gagal. Para pemimpin sudah ada yang dari politikus, yaitu Soekarno. Militer juga sudah, zamannya Orde Baru. Profesi sudah. Nah, yang belum adalah dari ulama. Jangan orangnya yang dilihat, tapi lihat dia mewakili apa. Bukan hanya muslim, tapi juga dari agama lainnya.</p>
<p><strong>Bagaimana sikap Anda?</strong></p>
<p>Sejak yang pertama dulu, saya sebetulnya nggak punya keinginan. Makanya saya nggak pernah keluar duit sepeser pun.</p>
<p><strong>Anda tidak takut terganjal persyaratan kesehatan seperti 2004?</strong></p>
<p>Tergantung KPU-nya (Komisi Pemilihan Umum), jujur apa ndak.</p>
<p><strong>Sebagai ulama, bukankah seharusnya tidak berpolitik?</strong></p>
<p>Begitu masuk ke politik, maka berhenti menjadi ulama. Seperti ayah saya, dari kalangan ulama juga. Tapi begitu masuk ke politik, dilepaskan ulamanya. Saya juga dulu begitu.</p>
<p><strong>Menurut Anda, apakah partai-partai Islam saat ini masih berpengaruh?</strong></p>
<p>Tidak juga. Sebetulnya, untuk melaksanakan syariat Islam tidak diperlukan negara Islam. Islam adalah bagian dari cara hidup, tapi apakah dia bagian dari negara, saya rasa tidak. Makanya, waktu Kapolda Jawa Tengah akan menutup pesantren Ngruki, saya bilang itu tidak tepat. Kalau mau membubarkan monggo, tapi itu harus dari masyarakat, bukan negara.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan Partai Kebangkitan Bangsa, bukankah unsur Islamnya begitu kental?</strong></p>
<p>PKB itu partai nasionalis, meski ada nama-nama Islamnya.</p>
<p><strong>Hubungan partai ini dengan Nahdlatul Ulama seperti apa?</strong></p>
<p>Kami mengambil pikiran-pikiran dari NU untuk diterjemahkan ke dalam tindakan-tindakan politik. Cuma, memang dalam susunan pengurus NU dipenuhi orang yang kalah di PKB. Ya, jadinya politis lagi.</p>
<p>Koran Tempo, Minggu 8 Oktober 2006 | Tamu</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/katumbiri.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/katumbiri.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/katumbiri.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/katumbiri.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/katumbiri.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/katumbiri.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/katumbiri.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/katumbiri.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/katumbiri.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/katumbiri.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/katumbiri.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/katumbiri.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/katumbiri.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/katumbiri.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/katumbiri.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/katumbiri.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katumbiri.wordpress.com&amp;blog=466553&amp;post=6&amp;subd=katumbiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katumbiri.wordpress.com/2006/10/11/gus-dur-pluralisme-bagian-dari-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/239a3c7306a219fa2736462532771c41?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">katumbiri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://katumbiri.wordpress.com/2006/10/11/dewi-rina/</link>
		<comments>http://katumbiri.wordpress.com/2006/10/11/dewi-rina/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Oct 2006 08:26:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>katumbiri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katumbiri.wordpress.com/2006/10/11/dewi-rina/</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katumbiri.wordpress.com&amp;blog=466553&amp;post=5&amp;subd=katumbiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://katumbiri.files.wordpress.com/2006/10/dewi2.jpg" title="dewi2.jpg"></a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/katumbiri.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/katumbiri.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/katumbiri.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/katumbiri.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/katumbiri.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/katumbiri.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/katumbiri.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/katumbiri.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/katumbiri.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/katumbiri.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/katumbiri.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/katumbiri.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/katumbiri.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/katumbiri.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/katumbiri.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/katumbiri.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katumbiri.wordpress.com&amp;blog=466553&amp;post=5&amp;subd=katumbiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katumbiri.wordpress.com/2006/10/11/dewi-rina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/239a3c7306a219fa2736462532771c41?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">katumbiri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menuai Untung dari Video Indie</title>
		<link>http://katumbiri.wordpress.com/2006/10/08/menuai-untung-dari-video-indie/</link>
		<comments>http://katumbiri.wordpress.com/2006/10/08/menuai-untung-dari-video-indie/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Oct 2006 09:49:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>katumbiri</dc:creator>
				<category><![CDATA[bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katumbiri.wordpress.com/2006/10/11/menuai-untung-dari-video-indie/</guid>
		<description><![CDATA[Bisnis video musik indie tidak selalu menggiurkan, tapi bisa memancing proyek lebih besar. Setiap Selasa malam pada pekan pertama dan ketiga, sekelompok anak muda membanjiri rumah Lutfi Armia Effendi di Kompleks Larangan, Ciledug, Tangerang, Banten. Di sana gitaris Purgatory itu &#8230; <a href="http://katumbiri.wordpress.com/2006/10/08/menuai-untung-dari-video-indie/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katumbiri.wordpress.com&amp;blog=466553&amp;post=7&amp;subd=katumbiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Bisnis video musik indie tidak selalu menggiurkan, tapi bisa memancing proyek lebih besar.<br />
</strong></em></p>
<p>Setiap Selasa malam pada pekan pertama dan ketiga, sekelompok anak muda membanjiri rumah Lutfi Armia Effendi di Kompleks Larangan, Ciledug, Tangerang, Banten. Di sana gitaris Purgatory itu menggelar pengajian rutin.</p>
<p>Ini memang bukan sekadar pengajian biasa. Di pengujung acara, peserta yang sebagian besar penggemar band yang berkiprah di jalur indie itu bisa berjumpa langsung dengan sang artis pujaan.</p>
<p>Lutfi dan kawan-kawan juga menangguk berkah. Saat seperti ini adalah kesempatan emas untuk mempromosikan album mereka. &#8220;Sekalian jualan album,&#8221; kata Lutfi kepada Tempo pada Rabu siang lalu.</p>
<p><span id="more-7"></span><br />
Band yang berkiprah di jalur indie label kini makin menjamur. Kemunculan mereka tak urung ikut memicu pertumbuhan produksi video musik di Tanah Air.</p>
<p><!--more--><br />
David Tarigan, salah satu produser Aksara Records, menjelaskan, sejak band indie mulai mewabah di Indonesia, bisnis video musik ikut melaju pesat. &#8220;Prospeknya sih selalu ada karena pada akhirnya semua ini kan bisnis,&#8221; kata David.</p>
<p><!--more--><br />
Bagi grup band, video adalah bagian dari promosi. Itu sebabnya, kata David, perusahaan rekaman indie yang terletak di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ini membikin video musik bagi setiap grup band yang bernaung di bawah labelnya.</p>
<p>Untuk satu klip, harga yang dipatok amat bervariasi. David menganggarkan tarif dari Rp 1 juta hingga Rp 25 juta. Ongkos itu seluruhnya ditanggung Aksara. &#8220;Kami yang mengeluarkan modalnya,&#8221; tutur David.</p>
<p>Membuat video musik kini bukan lagi perkara sulit. Ongkosnya juga tidak terlalu mahal. Revolusi dalam bidang teknologi banyak memangkas biaya produksi sebuah klip musik.</p>
<p>Mohammad Akbar dari Videolab, komunitas seni di Bandung, juga kerap membuat klip video tanpa biaya besar.</p>
<p>&#8220;Saya hanya memanfaatkan fasilitas yang ada,&#8221; katanya. Akbar hanya bermodalkan sebuah handycam miliknya. Kini Akbar sudah membikin delapan video yang dipesan band indie.</p>
<p>Edy Khemod, salah satu pendiri rumah produksi Cerahati, juga sukses membuat klip video pertama dengan anggaran cekak. Sayangnya, dia enggan menyebut jumlahnya. &#8220;Pokoknya kecil sekali,&#8221; kata Edy.</p>
<p>Video pertama bikinan rumah produksi yang berkantor di Kota Bandung ini dipesan grup band Mocca. Edy dan kawan-kawan menggunakan teknologi yang amat sederhana. Caranya dengan membuat kolase gambar yang berasal dari foto-foto personel Mocca. Setelah itu, baru diberi sentuhan animasi.</p>
<p>Hasilnya cukup oke. Edy mengatakan karya mereka itu diganjar penghargaan dari Music Television (MTV). &#8220;Klip video Mocca mendapat penghargaan MTV Video Music Award pada 2003,&#8221; katanya.</p>
<p>Sukses menangani Mocca membawa berkah tersendiri bagi Cerahati. Pesanan untuk membuat klip video mengalir kian deras. &#8220;Awalnya banyak karena hubungan pertemanan,&#8221; kata Edy. Kebetulan dia salah satu pentolan Seringai, grup musik indie di Bandung.</p>
<p>Untuk setiap klip video, Edy tidak mematok anggaran pasti. &#8220;Pernah ngerjain video musik mulai Rp 5 juta sampai Rp 80 juta,&#8221; tuturnya. Itu semua bergantung pada anggaran masing-masing grup band.</p>
<p>Namun, tidak semua band indie berkantong cekak. Menurut Edy, ada juga yang memesan klip berharga mahal. &#8220;Saya pernah mengerjakan klip yang mendekati angka ratusan juta untuk sebuah grup indie,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Meski pernah menggarap video musik bertarif mahal, itu bukan berarti mudah menangguk untung dari bisnis ini. Menurut Edy, dia membuat klip untuk band &lt;I&gt;indie&lt;I&gt; lantaran dilandasi semangat idealisme semata. Tarifnya juga berbeda dengan band yang sudah punya nama. Edy mengatakan tidak mematok tarif yang sama.</p>
<p>&#8220;Bisnis ini memang tidak selalu menguntungkan, tapi memberikan kontribusi besar terhadap ide-ide baru,&#8221; ucapnya. Alasan lainnya, banyak proyek lain yang bisa digaet setelah mengerjakan klip indie.</p>
<p>Itu pula sebabnya kini Cerahati mulai kebanjiran pesanan dari band-band yang bernaung di bawah major label. Di antaranya GIGI, Jamrud, Netral, Cokelat, dan /rif.</p>
<p>Lantaran padatnya pekerjaan, tidak semua klip untuk indie bisa dikerjakan oleh Cerahati. Rumah produksi ini mulai melakukan seleksi yang lumayan ketat. Kriterianya memang tidak begitu jelas. &#8220;Tergantung selera kami, sih,&#8221; kata Edy sambil tertawa.</p>
<p>Meski saat ini band indie mulai berkibar, tetap tak mudah menembus saluran distribusi yang masih dikuasai perusahaan rekaman besar. Untuk urusan distribusi, Aksara menggunakan jaringannya sendiri.</p>
<p>Kata David, Aksara bekerja sama dengan agennya di daerah. Selain itu, distribusi dilakukan dengan menitipkan video tersebut ke distro-distro (toko pakaian) di Jakarta dan kota besar lain.</p>
<p>Lutfi punya cara sendiri. Setiap kali konser, Purgatory rajin membagikan video bikinannya kepada penggemar band ini. &#8220;Klip video biasanya cuma untuk promosi, maka nggak jadi masalah disebar-sebarin,&#8221; kata Lutfi.</p>
<p>Lantaran sebagai sarana promosi ini pula, video musik Purgatory bisa diunduh gratis melalui Internet. Edy juga merelakan video bikinannya diperbanyak lewat Internet.</p>
<p>Pembajakan ternyata bukan musuh mereka. Justru dengan cara inilah band indie kian dikenal orang. &#8220;Berbeda dengan major label, yang kebakaran jenggot kalau dibajak,&#8221; tuturnya.</p>
<p>l DEWI RINA | AMI AFRIATNI | RANA AKBAR FITRIAWAN</p>
<p>Koran Tempo, Minggu, 8 Oktober 2006</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/katumbiri.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/katumbiri.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/katumbiri.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/katumbiri.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/katumbiri.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/katumbiri.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/katumbiri.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/katumbiri.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/katumbiri.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/katumbiri.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/katumbiri.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/katumbiri.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/katumbiri.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/katumbiri.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/katumbiri.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/katumbiri.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katumbiri.wordpress.com&amp;blog=466553&amp;post=7&amp;subd=katumbiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katumbiri.wordpress.com/2006/10/08/menuai-untung-dari-video-indie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/239a3c7306a219fa2736462532771c41?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">katumbiri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Resep Sang Pejuang</title>
		<link>http://katumbiri.wordpress.com/2006/04/09/resep-sang-pejuang/</link>
		<comments>http://katumbiri.wordpress.com/2006/04/09/resep-sang-pejuang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Apr 2006 10:35:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>katumbiri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katumbiri.wordpress.com/2006/10/11/resep-sang-pejuang/</guid>
		<description><![CDATA[Kartini ternyata tak hanya dikenal sebagai pejuang wanita, dia juga mampu menciptakan aneka makanan lezat. Gadis kecil itu terpana mendengar cerita salah seorang eyangnya, Roekmini. Sambil membuat kudapan, sang eyang tak bosan bercerita tentang kue-kue lezat kegemaran keluarga Bupati Jepara &#8230; <a href="http://katumbiri.wordpress.com/2006/04/09/resep-sang-pejuang/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katumbiri.wordpress.com&amp;blog=466553&amp;post=9&amp;subd=katumbiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Kartini ternyata tak hanya dikenal sebagai pejuang wanita, dia juga mampu menciptakan aneka makanan lezat.<br />
</strong></em><br />
Gadis kecil itu terpana mendengar cerita salah seorang eyangnya, Roekmini. Sambil membuat kudapan, sang eyang tak bosan bercerita tentang kue-kue lezat kegemaran keluarga Bupati Jepara Sosroningrat. Sang bupati adalah ayah Roekmini.</p>
<p>Kenangan itu rupanya membekas begitu dalam di benak sang gadis. Saat tumbuh dewasa, dia bercita-cita untuk membukukan resep warisan keluarganya. Gadis cilik itu tak lain adalah Suryatini N. Ganie (76). Enam puluh delapan tahun sejak perbincangannya dengan sang eyang, Tini akhirnya meluncurkan buku berjudul “Kisah dan Kumpulan Resep Putri Jepara” pada tahun 2005 lalu.</p>
<p>Buku ini bukan sekedar buku biasa. Rahasia kuliner milik Raden Ajeng Kartini, tertulis di dalamnya. Wanita pelopor emansipasi ini, ternyata tak hanya dikenal dengan prinsip hidupnya tentang kesetaraan hak antara pria dan wanita. Dibalik kejeniusannya, dia juga seorang koki ulung.</p>
<p><span id="more-9"></span><br />
Bersama dua saudaranya, R.A Kardinah dan R.A Roekmini, Kartini gemar mengolah santapan lezat. “Setiap ada kesempatan mereka memasak,” kata Tini yang mewariskan cerita itu dari leluhurnya. Keahlian memasak didapatnya dari Ngasirah, ibu kandung Kartini, yang sehari-harinya bertugas mengurus rumah tangga sang bupati.<br />
<!--more--><br />
Saking gemarnya memasak, akhirnya R.A Moerjam, ibu tiri Kartini, membuatkan dapur kecil di belakang rumahnya. “Ini seperti dapur bersih di rumah-rumah sekarang, terpisah dari dapur yang sering digunakan oleh para pembantu,” jelas Tini.</p>
<p>Letak Jepara yang berada di pesisir pantai, menjadikan kota ini sebagai pelabuhan penting di tanah Jawa. Tak aneh bila banyak saudagar dari berbagai belahan bumi mampir ke sana.</p>
<p>Selain pedagang Cina, saudagar dari negeri Arab termasuk yang paling sering singgah ke sana. “Jepara menjadi kota metropolitan yang sangat maju,” ucap Tini.</p>
<p>Pengaruh dari kehadiran pedagang Cina dan Arab, diantaranya tampak dari selera masakan saat itu. Selain masakan Jawa, Kartini juga mahir mengolah resep-resep yang berasal dari daratan Cina, Arab dan tentunya Belanda. Kartini memang dibesarkan dalam pendidikan Belanda.</p>
<p>Diantara sekian ratus resep masakan, menurut Tini, Kartini paling doyan mengudap kue “soesjes” atau kini lebih dikenal dengan nama sus. Kue ini rasanya lezat, tapi tidak terlalu manis. Selain itu ada juga “huzarensla” atau dikenal dengan nama selat usar, salad dari sayur mayur yang disiram dengan saus seperti mayonaise.</p>
<p>Untuk membukukan kumpulan resep ini, Tini melalui jalan berliku. “Cita-cita sudah ada sejak saya masih muda, tapi ada saja hambatannya,” kenang ibu dua anak ini.</p>
<p>Tini adalah cucu dari R.A. Soelastri, kakak Kartini dari ibu yang berbeda. Ketika dia masih belia, Tini mendapat warisan buku resep dari salah satu adik eyangnya, Roekmini. “Tapi buku itu hilang entah kemana,” tuturnya sedih. Namun syukurlah, salah seorang saudara Tini menggantikan buku resep Tini yang hilang itu.</p>
<p>Buku itu sebetulnya sudah dicetak jauh sebelum Tini menerbitkannya kembali pada tahun lalu. Sesudah Kartini meninggal dunia pada tahun 1905, Kardinah –adiknya- mengumpulkan resep-resep masakan kegemaran Kartini dan keluarga besar Sosroningrat. “Sebelum meninggal Kartini sempat mengatakan ingin menerbitkan buku resep keluarganya,” kata Tini.</p>
<p>Buku resep yang berjudul “Lajang Panoentoen bab Olah-Olah” itu diterbitkan pada tahun 1918. “Bukunya di cetak pada sebuah percetakan milik Belanda,” jelas wanita yang bersuamikan Nazarudin Ganie ini.</p>
<p>Selain pesan membuat buku resep, Kardinah juga membangun sebuah sekolah wanita di Tegal bernama Wisma Pranawa. Sekolah itu baian dari cita-cita Kartini. Di sekolah ini, resep Kartini menjadi salah satu pelajaran yang diberikan kepada para murid.</p>
<p>Tini membutuhkan waktu tiga tahun untuk menerbitkan buku yang dicetak dalam edisi mewah ini. Bagian yang paling sulit adalah menerjemahkan huruf palawa dan bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia. “Meski menguasai bahasa Jawa, tapi saya bukan Javanologi. Banyak istilah Jawa yang tidak saya mengerti,” kata Tini.</p>
<p>Dia pun dibantu seorang temannya, R.H. Yus Kayam yang kebetulan memang mengerti betul tentang bahasa Jawa. Apalagi banyak bahasa Jawa dari buku aslinya, yang sudah tidak dipakai lagi saat ini.</p>
<p>Bukan hanya bahasa, kendala lain yang ditemui Tini adalah ukuran maupun istilah pangan yang sudah tidak ditemui lagi saat ini.</p>
<p>Dalam buku resep ada ukuran kati. Setiap kati, kurang lebih sama dengan 625 gram. Istilah yang juga asing untuk saat ini adalah kamidjara, minyak gurih dan glepung gandum. Oleh Tini, kata itu diartikan menjadi serai, mentega yang dilelehkan dan tepung terigu. “Ukuran dan istilah selanjutnya diadaptasi dengan bahasa yang berlaku saat ini,” kata Tini sambil menyuap sesendok agar-agar dingin.</p>
<p>Selesai menerjemahkan, Tini pun menguji resep-resep tadi di dapur sebuah majalah wanita. “Sebelum diterbitkan, saya mencoba dulu takarannya agar benar-benar pas,” lanjut wanita yang tetap bugar di usia senjanya ini.</p>
<p>Uniknya, meski resep ini sudah berusia ratusan tahun, tapi tetap tak ketinggalan jaman. Banyak makanan yang tetap diminati sampai kini. Seperti “Ayam Goreng Glepoeng Gandoem” misalnya. Dalam bahasa Indonesia, dikenal dengan ayam goreng tepung. Ayam seperti ini banyak dijual di restauran cepat saji dengan nama “Fried Chicken.”</p>
<p>Dewi Rina</p>
<p>Koran Tempo, Minggu, 9 April 2006.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/katumbiri.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/katumbiri.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/katumbiri.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/katumbiri.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/katumbiri.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/katumbiri.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/katumbiri.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/katumbiri.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/katumbiri.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/katumbiri.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/katumbiri.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/katumbiri.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/katumbiri.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/katumbiri.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/katumbiri.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/katumbiri.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katumbiri.wordpress.com&amp;blog=466553&amp;post=9&amp;subd=katumbiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katumbiri.wordpress.com/2006/04/09/resep-sang-pejuang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/239a3c7306a219fa2736462532771c41?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">katumbiri</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
