Bandung, Wellcome Home

Setelah sekian lama, akhirnya saya kembali membuka katumbiri. Ini adalah posting pertama dari Bandung. Sejak 1 Mei lalu, saya akhirnya “hijrah” ke kota kelahiran suami tercinta, Gilang.

Kembali menulis, diselingi kabut yang turun ketika hujan sudah reda. Mencecap dingin yang menembus hingga ke sumsum tulang, ah nikmatnya…

Bandung, akhirnya. Kota yang membawa beribu kenangan. Meski tak lahir dan besar di sini, saya mencintaimu dengan sederhana. Hati telah ditambatkan.

Soeharto Dalam Sebuah Massa

Sulit menggambarkan mantan Presiden Soeharto. Sosok yang telah memerintah Indonesia selama 32 tahun ini, dipuja sekaligus dibenci. Tak bisa dipungkiri, ekonomi Indonesia saat pemerintahannya, sempat melaju pesat. Indonesia bahkan pernah dijuluki sebagai raksasa ekonomi dari Asia Tenggara.

Tapi kesuksesan itu harus dibayar mahal. Utang membengkak, kebebasan berpendapat diberangus,  mereka yang tak sejalan dengan The Smiling General ini harus mendekam dibalik jeruji penjara.

Sebuah kolom di harian Pikiran Rakyat, yang ditulis oleh budayawan Ajip Rosidi berjudul Soeharto, Dosa Mental dan Sistemnya mungkin bisa mendudukan sosok Soeharto dengan lebih jernih. Berikut petikannya:

Soeharto, Dosa Mental dan Sistemnya

Oleh Ajip Rosidi

Sudah lama orang berwacana tentang Soeharto yang pernah menjadi  Presiden Republik Indonesia selama 32 tahun. Orang menduga,  bangkrutnya negara kita adalah karena korupsi yang menggurita pada  masa pemerintahan Soeharto. Namun, orang juga mengakui bahwa ia  berjasa pada masa revolusi, di antaranya dengan memimpin penyerbuan “6 jam di Yogya” pada tahun 1949. Ada juga yang menganggap bahwa Soeharto yang membuat Indonesia pernah dianggap akan menjadi “harimau  Asia” menyusul Korea, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura.

Bahwa Soeharto telah membuat bangkrut negara yang diakui kaya raya dengan minyak bumi dan tambang lain, hutan, isi laut, adalah kenyataan yang sulit dibantah. Bahwa pada masa pemerintahannya, Indonesia dianggap maju ékonominya, dipuji oleh negara-negara maju dan lembaga-lembaga internasional seperti Bank Dunia dan IMF, sekarang kita tahu, hanya semacam konspirasi untuk kepentingan vested interest mereka. Dengan bantuan Soeharto sebagai presiden, mereka leluasa menguras kekayaan negara kita.
Baca lebih lanjut

Rahasia Peter

Hari-hari belakangan ini, dunia kantor saya, sedang diguncang oleh situs canggih yang bisa meramal apa saja. Canggih, karena situs itu bisa menjawab dalam semua bahasa. Selain itu, jawabannya kok bisa pas tenan…

Singkat cerita, situs bernama http://www.peteranswers.com berhasil menciptakan ketegangan-ketegangan kecil yang mengasyikkan, sekaligus membingungkan. Para korban (termasuk saya), mentah-mentah dibuat percaya oleh Om Peter. Kok hebat banget sih dia, bisa tahu apa warna baju saya, siapa nama lengkap saya, apa yang sedang saya makan, nama suami, teman atau pacar.

Padahal dalam bayangan saya, dia berada jauh bermil-mil dari kita, kendati tak tahu dimana persisnya. Maklum, teknologi virtual telah mengerutkan jarak, meniadakan ruang, memangkas waktu. Wah, wah, wah…

Baca lebih lanjut

Tentang Kita dan Dunia yang Semakin Tua

dunia dalam wajah

tanpa senyum, berurai air mata dan marah,

mengapa menangis? aku bertanya.

tak usah menangis, kataku padanya 

Baca lebih lanjut

Alhilal Hamdi: Energi Hijau Bukan Ban Serep

Sejak demam energi hijau melanda negeri ini, Alhilal Hamdi menjadi orang yang paling sering diburu wartawan. Maklum, dia memang gudang informasi seputar energi hijau ini.

Lelaki yang akrab disapa Hilal ini rajin menulis di berbagai media massa. Jadwalnya disesaki dengan beragam seminar seputar energi hijau. Bahkan, dalam sepekan terakhir jadwalnya sudah terisi penuh. Dalam sehari ia bisa menjadi pembicara di dua tempat sekaligus.

Bukan tanpa alasan bila Hilal, 52 tahun, begitu bersemangat mempromosikan gerakan ini. Sebab, dia adalah Ketua Umum Masyarakat Energi Hijau Indonesia. Bersama orang-orang yang peduli soal pemanfaatan energi hijau terbarukan dari tanaman, Hilal giat mengkampanyekan gerakan ini. “Energi hijau adalah energi bersih yang tidak mencemari lingkungan,” kata Hilal.

Menurut Hilal, energi hijau begitu penting karena dalam beberapa puluh tahun ke depan dunia akan mengalami krisis bahan bakar minyak. Cadangan minyak bumi kian menipis sedangkan kebutuhan bahan bakar meningkat pesat tiap tahun.

Pria yang gemar berternak kambing Etawa dan domba Garut ini bukan orang baru di dunia yang satu ini. Insinyur teknik perminyakan lulusan Institut Teknologi Bandung ini amat mahfum bahwa krisis energi saat ini harus segera dicarikan solusinya.

Di sela kesibukannya yang padat, Hilal menerima wartawan Dewi Rina, dan Ami Afriatni untuk sebuah wawancara khusus. Wawancara berlangsung di kantornya, gedung Perusahaan Listrik Negara di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa lalu. Hilal tercatat sebagai Komisaris Utama di perusahaan itu. Berikut ini petikannya.

Apa itu energi hijau?

Energi hijau adalah energi bersih yang tidak menambah polutan atau cemaran ke atmosfer kita. Bisa dari air, <i>hydrothermal, hydropower, geothermal<i>, angin, matahari, sampah, hingga gelombang. Salah satu yang termasuk energi hijau adalah <i>biofuel<i>. Di masa datang, semua energi hijau harus menjadi kebijakan utama pengembangan dan pemanfaatan energi. Jadi, sebenarnya <i>renewable energy<i> ini harus dikedepankan, bukan malah dijadikan alternatif atau ban serep.

Baca lebih lanjut

Gus Dur: Pluralisme Bagian dari Islam

Konflik antar umat beragama kembali merebak. Sejumlah rumah dan masjid milik kelompok Ahmadiyah diserbu dan dibakar massa pada awal Desember 2007 lalu. Tak urung, kejadian ini kembali menyadarkan kita, inikah wajah Indonesia saat ini?

Padahal menurut Abdurrahman Wahid -atau biasa disapa Gus Dur, pluralisme adalah bagian dari Islam. “Pluralisme adalah bagian dari Islam sejak dulu. Inti dari Islam kan sebetulnya hanya dua dalam kalimat syahadat, yaitu tentang keesaan Tuhan dan kerasulan Muhammad. Di luar itu, masing-masing saja, toh?” katanya dalam sebuah wawancara dengan Koran Tempo. 

Untuk mengingatkan kembali, berikut petikan wawancara penulis dengan mantan Presiden Indonesia ini.

 Anda baru saja menerbitkan buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita. Bagaimana ceritanya?

Sebenarnya judulnya bukan itu. Anak-anak di Wahid Institute mengusulkan judul lain. Ini adalah kumpulan tulisan saya di majalah Prisma. Awalnya adalah tentang pandangan saya terhadap militerisme. Namun, buku itu nggak jadi terbit. Akhirnya, buku itu diterbitkan oleh Wahid Institute, yang mengulas soal perbedaan hubungan Islam dengan negara dan Islam dengan masyarakat. Tadinya judulnya adalah Islam, Negara dan Masyarakat. Tapi sama anak-anak di Wahid Institute diganti menjadi Islamku, Islam Anda, Islam Kita. Jadi itu memang bukan kemauan saya.

Berapa lama Anda menulis buku ini?

Dua tahun. Tulisan ini adalah kolom yang sudah diterbitkan di surat kabar.
Baca lebih lanjut